Laman

Senin, 29 November 2010

Majas penegasan
1.  Apofasis atau Preterisio –> gaya bahasa untuk menegaskan sesuatu dengan cara seolah-olah menyangkal hal yang ditegaskan.
a. Rasanya berat bibir ini untuk mengatakan bahwa kucing kesayangannya telah mati tadi siang karena tertabrak mobil.
b. Reputasi Anda di hadapan para karyawan sangat baik. Namun dengan adanya pemecatan karyawan tanpa alasan saya ingin mengatakan bahwa Anda baru saja menghancurkan reputasi baik itu.
2. Repetisi –> pengulangan kata, frase, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberikan penekanan.
a. Bukan uang, bukan mobil, bukan rumah mewah yang aku harapkan dari ayah dan ibu. Aku hanya ingin ayah dan ibu ada di sini. Aku hanya ingin perhatian. Hanya itu, tidak lebih.
3. Aliterasi –> pengulangan konsonan pada awal kata secara berurutan
a. ….. Mengalir, menimbu, mendesak, mengepung, memenuhi sukma, menawan tubuh (“Perasaan Seni”, J.E. Tatengkeng)
b. Budi baik bagai bekal bagi kehidupan kita.
4. Pleonasme –> suatu pikiran atau gagasan yang disampaikan secara berlebihan sehingga ada beberapa keterangan yang kurang dibutuhkan.
a. Kami mendengar kabar itu dengan telinga kami sendiri
b. Naiklah ke atas dengan hati-hati
c. Api yang panas telah meluluhlantakkan pabrik tekstil itu.
5. Paralelisme –> gaya bahasa yang memakai kata, frase atau klausa yang kedudukan sama atau sejajar.
a. Baik golongan yang tinggi maupun golongan yang rendah harus diadili kalau bersalah.
b. Segala kupinta tiada kuberi.
Segala tanya tiada kau sahuti.
(“Nyanyi Sunyi”. Amir Hamzah)
c. Mereka boleh memburu
Mereka boleh membakar
Mereka boleh menembak
(“Afrika Selatan”, Subagio Sastrowardo)
6. Tautologi –> gaya bahasa berupa pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya
a. Ia jadi marah dan murka kepada orang yang menyerempet motor kesayangannya
7. Inversi –> gaya bahasa yang mendahulukan predikat sebelum subyek dalam suatu kalimat.
a. Terpaksa mengemis bocah itu di pinggiran jalan
b. Kubelai rambutnya yang panjang
8. Ellipsis –> gaya bahasa yang menghilangkan beberapa unsur kalimat dan unsur-unsur yang hilang itu mudah ditafsirkan oleh pembaca.
a. Andai saja kamu mau mengikuti saranku, tentu….
Sudahlah semuanya sudah terjadi, tidak perlu dibicarakan lagi.
b. Aku sudah memberimu modal uang, barang, bahkan waktuku bersama keluarga, tetapi hasilnya….
9. Retoris –> gaya bahasa untuk menanyakan sesuatu yang jawabannya telah terkandung dalam pertanyaan tersebut.
a. Adakah orang yang ingin sakit selama hidupnya?
b. Siapa yang ingin hidup bahagia?
c. Dapatkah harimau terbang?
d. Mungkinkah orang yang sudah mati hidup kembali?
10. Klimaks –> gaya bahasa untuk menuturkan satu gagasan atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana meningkat ke yang lebih kompleks.
a. Aku menangis, meledak-ledak seperti mau memecahkan rongga dada. (“Ziarah Batu”, M. N. Furqon)
b. “Tahu enggak, rid, sungguh, aku ingin mewarisi semangat burung hud-hud. Burung kecil yang terbangnya rendah, namun ia mampu melintasi gurun, menahan angin kencang, menebas rintangan, hingga ia mampu menempuh perjalanan yang demikian jauh, dari Yaman menuju negeri putri Saba’ di Palestina.” (Elang Hilang Sayap, Titaq Muttaqwiati)
11. Antiklimaks –> gaya bahasa untuk menuturkan satu gagasan atau hal dari yang penting atau kompleks menurun kepada yang sederhana.
a. Persiapan pemilihan umum telah dilaksanakan secara serentak di ibu kota negara, ibu kota provinsi, kabupaten, kecamatan, dan semua desa di seluruh Indonesia, hingga di tingkat RW maupun RT.
12. Antanaklasis –> gaya bahasa yang menggunakan pengulangan kata yang sama, tapi maknanya berlainan.
a. Ada dua buah rumah kaca di halaman rumah Pak Saiman
b. Pada tanggal 5 April 2010, gigi susu Aliya mulai tanggal. Saat itu , Aliya berusia empat tahun.
13. Pararima –> bentuk pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
contoh : bolak-balik, lika-liku, kocar-kacir
14. Koreksio –> gaya bahasa yang pada mulanya menegaskan sesuatu yang dianggap kurang tepat kemudian diperbaiki.
a. Kalau tidak salah, saya pernah menyampaikan hal ini dua hari yang lalu. Ah bukan, kemaarin.
b. “Tujuan kami menghadap Pak Lurah, ingin mengadakan acara parade bedug, maksudnya meminta izin untuk mengadakan parade bedug.
15. Syndeton –> gaya bahasa untuk mengungkapkan suatu kalimat atau wacana yang setiap bagiannya dihubungkan oleh kata penghubung. Bila kata hubung yang digunakan lebih dari satu atau banyak disebut polisindeton. Namun bila kata penghubung tidak dinyatakan secara langsung atau dilesapkan, disebut asyndeton.
a. Polisyndeton
Dan Kinkin percaya Bapak tidak berbohong. Ibu juga tidak. Ia pun mendadak merasa mendapat limpahan dari langit, anugerah. Sebab dia buta, maka dia tidak perlu menangis seperti Bapak sebab dia buta, maka dia bisa memilih apa yang ingin dilihatnya, dengan mata imaji, untuk selalu hanya membiaskan hal-hal yang menyenangkan…..
(“Pelangi Kinkin”, Asma Nadia)
b. Asyndeton
Angin bertiup kencang menebarkan hawa dingin yang cukup menggerogoti tulang sumsumnya. Ia menekuk lutut, (lalu) menautkan pada perut seraya terus duduk meringkuk di dalam becaknya, (dan) mencoba menciptakan kehangatan di tengah badai yang semakin menderas.
(“Seorang Lelaki dan Selingkuh”, Afifah Afra)
16. Eklamasio –> gaya bahasa yang menggunakan kata seru.
a. Lha, kamu ini bagaimana?
b. Wow, sungguh luar biasa! Ternyata kamu mampu membuat lukisan sekelas Affandi.
17. Alonim –> penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
a. Dok, pasien sudah selesai ditrepanasi. (Dok adalah varian dari dokter)
b. “Bagaimana jika perdarahan di otaknya tidak kunjung berhenti prof.?” tanya mahasiswa yang antusias pada kuliah cedera kepala Prof. Maliawan.
18. Interupsi –> gaya bahasa yang menyisipkan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
a. Orang bilang, istri juragan haji, tetua di kampungnya yang sudah naik haji berulang-ulang, sombongnya minta ampun… (“Pelangi Kinkin”, Asma Nadia)
b. Ia ingat Mang Karta yang sebatang kara, yang malam ini sibuk menjadi amil di masjid tempat mereka berdua tinggal, mati-matian berusaha membunuh sepi. (“Bunga Fitri”, El-Syifa)
19. Preterio –> ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
a. Lupakan semua ucapannya, anggap saja angin lalu.
b. Tak perlu saya sebut orangnya, semua orang di ruangan ini pasti sudah tahu.
20. Silepsis –> gaya bahasa dengan menggunakan dua konstruksi sintaksis yang dihubungkan oleh kata sambung. Namun hanya salah satu konstruksi yang maknanya utuh. (Dalam silepsis, konstruksi yang digunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar)
contoh:
a. Fungsi dan sikap bahasa.
Seharusnya: Fungsi bahasa dan sikap bahasa.
Fungsi bahasa maknanya ‘fungsi dari bahasa’, sikap bahasa maknanya ‘sikap terhadap bahasa’ (Diksi dan Gaya Bahasa, Gorys Keraf)
b. Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
Sehausnya: Ia sudah kehilangan topi dan kehilangan semangatnya.
Kedua konstruksi kalimat tersebut memiliki makna gramatikal yang berbeda. Konstruksi yang satu bermakna denotasional dan yang lainnya bermakna kiasan. (Diksi dan Gaya Bahasa, Gorys Keraf)
21. Silepsis dan Zeugma
Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.

22. .Enumerasio
Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas. Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.





Majas pertentangan
1.    Oksimoron
adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang
berlawanan dalam frasa yang sama.
Contoh : Keramah-tamahan yang bengis

2.    Paradoks
Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun
sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda.
Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.

3.    Antitesis
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya.
Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.

4.    Kontradiksio Interminis
Adalah gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah
dikemukakan sebelumnya.
Contoh : semuanya telah diundang, kecuali Sinta.

5.    Anakronisme
Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidak sesuaian uraian dalam karya sastra
dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu.
Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam
belum ada)

Jumat, 26 November 2010

E-learning

Sebelum kita mempelajari pengertian e-learning, ada baiknya kita mengetahui sejarah dan perkembangannya.
Sejarah dan Perkembangan E-learning
E-learning atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning
(1) Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.
(2) Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.
(3) Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
(4) Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.
PENGERTIAN E-LEARNING
Sekilas perlu kita pahami ulang apa e-Learning itu sebenarnya. E-Learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance Learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. E-Learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-Learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-Learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.
Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-Learning sebagai berikut :
·         Pembelajaran jarak jauh.
E-Learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa dijalankan secara on-line dan real-timeoff-line atau archieved. ataupun secara
Pembelajar belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet ataupun menggunakan media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia materi di kampus/universitas, atau perusahaan penyedia content tertentu. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.
  • Pembelajaran dengan perangkat komputer
E-Learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-Learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.
  • Pembelajaran formal vs. informal
E-Learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. E-Learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-Learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa e-Learning untuk umum. E-Learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
  • Pembelajaran yang ditunjang oleh para ahli di bidang masing-masing.
Walaupun sepertinya e-Learning diberikan hanya melalui perangkat komputer, e-Learning ternyata disiapkan, ditunjang, dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang masing-masing, yaitu:
  1. Subject Matter Expert (SME) atau nara sumber dari pelatihan yang disampaikan
  2. Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi e-Learning dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari
  3. Graphic Designer (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari
  4. Ahli bidang Learning Management System (LMS). Mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya.
Di sini, pembelajar bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui LMS ini, siswa juga bisa melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang diperoleh.
E-Learning tidak diberikan semata-mata oleh mesin, tetapi seperti juga pembelajaran secara konvensional di kelas, e-Learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait.

KELEBIHAN E-LEARNING
1.      Lebih mudah mendapatkan materi atau info
Jika kita menggunakan sistem pembelajaran berbasis e-learning, kita akan lebih mudah untuk mencari dan mendapatkan materi atau info. Tinggal ketik apa yang kita cari, tunggu sebentar, kita langsung dapat materinya.

2.      Pembelajaran lebih efektif dan efisien waktu dan tenaga
Jika ada tugas, kita bisa mencari bahan yang kita butuhkan dengan cepat. Tidak harus ke sana ke mari untuk mendapatkan bahan yang kita butuhkan. Tinggal duduk di depan komputer atau laptop, lalu cari yang kita butuhkan. Setelah itu, susun tugasnya dan selesai!!!
Banyak efisiensi biaya bisa didapatkan dengan e-learning. Bagi penyelenggara, dalam hal ini universitas misalnya, biaya yang bisa dihemat antara lain :
·         Biaya administrasi pengelolaan (biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya dosen pengajar dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan),
·         Penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan ruang kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP).
Bagi pembelajar, seperti dijelaskan di depan, efisiensi biaya transportasi dan akomodasi dapat diperoleh. Di sektor bisnis/korporat misalnya, apabila sebuah perusahaan skala nasional dengan cabang di bebagai propinsi akan memberikan pelatihan bagi karyawannya dari seluruh cabang di Indonesia. Berapa biaya transportasi dan akomodasi yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan pelatihan tersebut ?. Para karyawan pun terpaksa harus meninggalkan pekerjaan untuk mengikuti pelatihan. Berapa produktivitas yang hilang dengan mengikuti pelatihan secara konvensional. Dengan e-learning, material pelatihan dapat didistribusikan baik secara on-line maupun off-line ke seluruh cabang yang ada.
3.      Bisa tahu materi atau tugas lebih awal
Mahasiswa bisa melihat jadwal atau tugas yang diberikan oleh dosennya yang sudah di upload. Jadi, mahasiswa sudah tahu apa yang akan dilakukan hari ini dan dapat mempersiapkannya lebih awal.

4.      Bisa mendapatkan materi yang lebih banyak
Kita bisa mendapatkan banyak sekali materi, tidak hanya dari dalam negeri, bahkan kita bisa mencari materi yang berasal dari luar negeri yang tentunya akan menambah wawasan bagi kita dan juga bisa untuk meningkatkan hasil belajar kita.

5.      Dapat berinteraksi langsung dengan siapapun
Seorang mahasiswa bisa saja bertanya pada temannya materi apa yang diajarkan hari ini atau tugas apa yang diberikan, jika hari itu dia tidak bisa berangkat karena suatu alasan. Dia juga bisa bertanya langsung pada dosennya apa materi yang diajarkan tadi atau tugas apa yang diberikannya. Dalam berinteraksi, dia bisa menggunakan media tulisan. Dia mengetik apa yang akan dibicarakan atau ditanyakan kemudian dikirim ke alamat yang dituju. Dia juga bisa berinteraksi langsung, bisa bertatap muka dan berbicara langsung dengan orang yang diajak bicara. Karena kemajuan teknologi, sekarang hal itu bisa terjadi dengan alat yang bernama webcam.

6.      Belajar Mandiri
E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar. Pembelajar bebas menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email, chat atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Bisa juga membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (Learning Management System).

KEKURANGAN E-LEARNING
* Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar-siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar.
* Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis / komersial.
* Berubahnya peran guru dari semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (Information and communication technologies).
* Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
* Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer)
* Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet, dan
* Kurangnya penguasaan bahasa komputer.